Gelombang
kebangkitan media juga diiringi dengan banyaknya bermunculan beberapa industri
penerbitan, baik penerbitan surat kabar, majalah, atau buku-buku bacaan. Dalam
kasus Islam dan masyarakat muslim Indonesia, dalam dua dekade terkakhir,
penerbitan Islam di Indonesia begitu pesat pertumbuhannya.[1] Buku-buku atau media Islam lain dapat dengan mudah kita temukan, baik dalam
arena pameran-pameran buku Islam, beberapa toko buku Islam, atau toko-toko buku
umum yang menyediakan dan menjual buku Islam. Selain itu pula, beberapa media
seperti majalah, tabloid, atau pamflet dapat juga dengan mudah didapatkan di
pinggir-pinggir jalan, di toko-toko kecil, atau di agen-agen. Secara paradoks,
sering kali tabloid-tabloid Islam dengan cover depan seorang wanita yang berbusana
muslim formal bersandingan dengan tabloid-tabloid atau majalah dewasa atau
majalah pria dewasa dengan cover gambar wanita yang berpenampilan seronok.
Beberapa penerbitan Islam yang memang secara khusus
menyediakan bacaan Islam kepada komunitas muslim Indonesia, dan beberapa
penerbitan lain yang umum pun turut serta membuka cabang atau memproduksi
buku-buku Islam. Sebut saja Mizan, sebagai penerbit yang memang menyediakan
bacaan Islam sedari awal kemunculan penerbitannya. Sedangkan untuk penerbitan umum
yang juga memproduksi buku-buku Islam adalah penerbit Erlangga, Gramedia, dan
Remaja Rosda Karya. Tentu masing-masing mempunyai sudut pandang yang berlainan
dalam hal tema yang diterbitkan oleh masing-masing penerbit.
Menjadi menarik, manakala buku-buku atau lebih umumnya
penerbitan-penerbitan itu telah cukup mempunyai segmentasi pasar yang jelas,
oleh karena itu kita dapat secara mudah untuk memperhatikan bagaimana
kecendrungan pemahaman ajaran Islam komunitas muslim Indonesia dari buku-buku
yang mereka baca. Hal ini berarti lewat buku-buku atau media-media itulah
muslim Indonesia direpresentasikan.
Tulisan ini mengkaji bagaimana muslim Indonesia
mengkomunikasikan ide-ide mereka dalam buku-buku atau media Islam. Kajian ini
menjadi penting untuk melihat keragaman pemahaman Islam pada masyarakat muslim
Indonesia. Dengan ini, maka dapat digambarkan bagaimana perkembangan ide-ide,
atau pemikiran-pemikiran dan topik-topik diskusi yang muncul pada masyarakat
Muslim Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan adalah apa yang
melatarbelakangi tumbuh pesatnya buku-buku dan media-media Islam?;
Materi-materi apa yang banyak muncul dan populer dalam buku-buku dan
media-media Islam? Dua pertanyaan tersebut diharapkan dapat menjawab bagaimana
peta pemahaman keagamaan muslim di Indonesia, hal ini bisa dilihat dengan
memperhatikan segmentasi pembaca dari penerbit Islam. Pada akhirnya kajian ini
mampu memberikan gambaran secara empiris “wajah” Islam Indonesia yang beragam.
Dalam membaca dan mengkaji fenomena-fenomena keberadaan
penerbitan Islam, penulis akan meminjam pendekatan struktural-semiotik.
Pendekatan struktural-semiotik ini dalam operasionalnya akan dilakukan dengan
analisis surface structure (struktur permukaan) dan deep structure
(struktur dalam).
Struktur permukaan adalah narasi yang terbaca. “Narasi”
ini menunjuk pada upaya untuk menceritakan.[2]
Pada dasarnya narasi adalah noun (kata benda) yang berarti cerita,
tepatnya cerita tentang pengetahuan. Namun, cerita disini tidak akan terbentuk
cerita tanpa sebuah upaya menceritakan. Cerita tentang pengetahuan adalah
cerita tentang fakta-fakta, dan bukan hanya sekadar cerita dongeng atau mitos.[3]
Dalam analisis ini akan menggunakan konsep
penanda-petanda (signifier-signified) dalam teori semiotika.[4]
Penulis dalam tulisan ini akan mengemukakan fakta-fakta kemunculan beberapa
penerbitan Islam di Indonesia. Inilah yang akan penulis jadikan sebagai
penanda, yakni yang tampak, berupa fakta-fakta, dan gagasan dari beberapa
penerbit Islam yang ada. Tidak hanya fakta-fakta atau wujud keberadaan
penerbit-penerbit Islam, tetapi juga gagasan-gagasan yang dibangun lewat
penerbitan itu.
Fakta-fakta adanya penerbitan yang muncul, dan gagasan
serta materi yang dimunculkan dalam media dan buku-buku yang diterbitkan itu
mengacu pada petanda, atau konsep yang pada akhirnya akan memberikan sebuah
makna. Kalau dinarasikan atau dikalimatkan, maka akan muncul misalnya kalimat
“munculnya media-media dan penerbit Islam menandakan/bermakna....”, “kebanyakan
ide-ide, gagasan-gagasan, atau materi-materi yang disajikan oleh
penerbit-penerbit Islam adalah....maka hal ini berarti/bermakna...” dan lain
sebagainya.
Perlu diingat, pembacaan ini baru pada tahap permukaan,
artinya baru pada tahap makna yang segera tampak lewat pembacaan-pembacaan
tadi, dan belum menyentuh pada struktur dalam sebuah gagasan.
Dalam analisis pada level kedua, yakni struktur dalam,
penulis meminjam teorisasi Rolland Barthes tentang mitos dan ideologi.[5]
Dalam bahasa Barthes, struktur luar adalah signification tingkat
pertama, sedangkan struktur dalam adalah signification tingkat kedua.
Bagi Barthes, mitos adalah sistem semiotik (signification)
tingkat kedua (sekunder), yang merupakan bentuk konotasi dalam sistem
pemaknaan. Barthes mendefinisikan mitos sebagai "a type of speach".
Disebut speach (wicara) karena mitos adalah cara orang berbicara atau
mitos adalah juga bagian dari bahasa yang memiliki pesan; pesan itu adalah
pesan konotatif. Mitos ini berfungsi untuk mendistorsi dan mendeformasi
kenyataan (makna tingkat pertama). Akan tetapi distorsi dan deformasi itu
terjadi sedemikian rupa sehingga pembaca mitos tidak menyadarinya (sehingga
terjadi naturalisasi). Akibatnya lewat mitos-mitos itu akan lahir
berbagai stereotype tentang suatu hal. Mitos ini dibuat dengan
menggunakan sistem semiotik tingkat pertama sebagai penanda bagi sistem sistem
semiotik tingkat kedua. Penanda baru ini disebut form dan petandanya
disebut concept. Hubungan antara form dan concept yang
baru ini kemudian disebut mitos.[6]
Untuk memahami konsep mitos Barthes ini, bisa dilihat gambar di bawah ini.
Gambar 1.
(Penanda) Exspression (1)
|
(Petanda) Content (1)
|
|
Exs (2)
|
Cont (2)
|
|
(Mitos) Konotasi
|
||
Bagi Barthes, mitos berfungsi sebagai cara untuk
menaturalisasikan apa yang sesungguhnya tidak natural dan historis. Yang tidak
natural dan historis ini adalah konsep yang muncul pada zaman, tempat, dan
masyarakat tertentu. Lewat sistem mitos, konsep ini dipakai menjadi seolah-olah
natural, dan itulah ideologi. Dengan demikian ideologi membuat konsep-konsep
seolah-olah tidak bermasalah (innocent).[7]
Masalah dimunculkan oleh kenyataan media dan publikasi
yang sering kali menggambarkan Islam dengan kurangnya pengetahuan yang mendalam
mengenai Islam yang direpresentasikan
oleh media itu. Oleh karena itu pengetahuan Islam yang dimunculkan oleh media
dan buku-buku Islam sering kali hanya sepintas lalu, tidak mendalam, hanya pada
tataran superficial (permukaan), karenanya sering kali terdistorsi,
sehingga seakan-akan menjadi natural. Istilah-istilah seperti fundamentalisme
dan terorisme sering kali begitu saja dilekatkan dengan Islam tanpa menilai
terlebih dahulu kesesuaian dengan konteks atau tanpa terlebih dahulu
mempertimbangkan implikasi-implikasi yang muncul dari istilah-istilah tersebut.
Sering kali pemahaman-pemahaman Islam itu dijadikan sebuah keyakinan yang
menjadi ideologi (pada awalnya menjadi
mitos), yang merupakan kesadaran palsu. Kesadaran palsu ini digunakan sebagai
alat legitimate bagi kekuasaan dominan atau bagi anggota kelompok
tertentu untuk menguasai.[8]
Kalau beberapa kajian terdahulu lebih sering melihat
perkembangan pemikiran Islam dengan melihat tema-tema yang muncul yang
dicetuskan oleh tokoh-tokoh pemikir Islam, maka signifikansi tulisan ini
terletak pada gambarannya tentang perkembangan gagasasn atau ide tentang Islam
yang menyentuh lapisan bawah atau masyarakat muslim secara luas, sehingga
pemetaan Islam yang cenderung elitis dapat dikurangi, karena tidak sepenuhnya
menggambarkan pemikiran-pemikiran muslim lapisan menengah ke bawah.
Kemunculan
Penerbitan Islam: Sejarah Ringkas
Di awal tahun 1970-an, dunia penerbitan Indonesia secara
umum sangat memprihatinkan.[9]
Pengaruh krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1960-an masih terasa, termasuk
dalam dunia industri penerbitan. Pada tahun 1970 Surat Kabar Harian Kompas
mampu menerbitkan hanya 4 halaman setiap hari. Koran harian Muslim nasional Harian
Abadi, yang didirikan oleh kaum modernis Islam juga hanya menerbitkan empat
halaman setiap hari. Hal ini juga terjadi pada
buku-buku Islam, hanya sedikit buku-buku baru yang diterbitkan. Balai
Pustaka, sebuah penerbit milik pemerintah hanya dapat survive,
tetapi tanpa produksi. Hanya ada tiga penerbit Islam nasional di Jakarta dan
Bandung. Di Jakarta adalah penerbit Bulan Bintang, dan di Bandung adalah
penerbit Pustaka Panjimas, dan yang terbesar adalah penerbit al-Ma’arif.[10]
Penerbit Bulan Bintang menerbitkan buku-buku murah dengan
kualitas cetak yang rendah, yang menspesifikasikan pada buku-buku keagamaan.
Pustaka Panjimas adalah lini penerbitan dari Jurnal Panji Masyarakat yang
bertahan sejak masa Soekarno. Panjimas dapat bertahan, sebagaimana menurut
Watson, disebabkan melalui pencetakan dan penerbitan karya-karya pendirinya,
yakni Buya Hamka yang menulis Tafsir al-Qur’an semasa masa penahanannya.
Penerbit Al-Ma’arif menerbitkan buku teks-teks pedoman agama yang ditulis oleh
para tokoh-tokoh agama kontemporer, yang diantara mereka juga mengkaitkan
isu-isu politik yang berkembang.[11]
Dalam hal toko buku, hanya ada sedikit toko buku, yakni
toko buku Gunung Agung di Jakarta, yang berdiri sejak masa Soekarno, dan Toko
Sumur Bandung di Bandung. Sejalan dengan lesunya dunia penerbitan Islam pada
waktu itu, maka stok buku yang tersedia pun sangat sedikit.
Perkembangan dunia penerbitan terjadi di awal tahun
1970an, dimana kebijakan ekonomi pemerintah waktu itu sangat menguntungkan dan
membuahkan hasil. Pembukaan perizinan investasi modal asing dan perluasan
industri besar, yang diikuti dengan penguatan industri manufaktur (tekstil,
perakitan mobil, dan elektronik) memberikan angin segar bagi perekonomian
Indonesia. Geliat industri penerbitan mulai ditampakkan oleh sebuah majalah
mingguan Tempo pada tahun 1971. Tempo menerbitkan majalah dengan
cover glossy tetapi dengan kualitas kertas yang masih kurang. Tempo
menjangkau kelas menengah intelektual, sehingga menjadi bacaan kelas menengah.
Di sisi lain, masyarakat Muslim kelas menengah dapat membaca majalah Panji
Masyarakat. Kemunculan Penerbit Gramedia pada tahun 1974, yang bekerjasama
dengan Kompas juga menjadi indikasi perkembangan dunia penerbitan di
Indonesia. Buku pertama yang diterbitkan oleh Gramedia adalah Karmila,
sebuah novel romantis yang sebelumnya disajikan serial dalam harian Kompas.[12]
Sejak dekade 1970-an sikap pemerintah Soeharto membatasi
ruang gerak tokoh-tokoh Muslim dan aktivitasnya. Harian Abadi, sebuah
surat kabar harian Muslim dilarang oleh pemerintah. Sejak itu tidak terbit lagi
harian Muslim sampai terbitnya harian Republika pada akhir dekade
1980-an.[13]
Hal ini tentu membuka peluang kembali bagi penerbit-penerbit Islam yang baru,
bahkan penerbit-penerbit lama juga kembali berproduksi. Tetapi kembali
beroperasinya penerbit-penerbit lama dan munculnya beberapa penerbit Islam baru
tidak menunjukkan iklim yang inovatif dalam dunia perbukuan dan media Islam.
Hal ini disebabkan mereka harus menyesuaikan dengan sikap pemerintah yang
selalu mengawasi ruang gerak oposisi Muslim.
Hanya sedikit saja yang menerbitkan bacaan-bacaan Islam
yang inovatif, diantaranya jurnal bulanan budaya Budaja Djaja. Dalam
salah satu sesinya menghadirkan perdebatan seputar Islam dan sekularisasi
Nurcholis Madjid yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1970. Selain itu pula
terbit Jurnal Prisma, sebuah jurnal bulanan bagi kalangan intelektual
baru yang diterbitkan oleh LP3ES.[14]
Seiring dengan kemajuan ekonomi pada akhir tahun-tahun
1970-an dan sepanjang tahun-tahun 1980-an, pasar untuk bacaan-bacaan baru dan
ide-ide baru yang sesuai dengan perkembagan ekonomi, bersamaan dengan itu pula
industri penerbitan juga meresponnya dengan menerbitkan karya-karya terjemahan
untuk menutupi tulisan-tulisan asli penulis Indonesia yang kurang. Di sisi yang
lain juga pengaruh Revolusi Islam Iran yang berpengaruh pada dunia
Internasional Islam, membuat pemerintah juga lebih mempermudah semua ekspresi
dan opini-opini kaum Muslim. Mukti Ali seorang intelektual Muslim modernis
(yang kemudian menjadi Mentri Agama) amat mendorong untuk melihat Islam dengan
sudut pandang yang luas ketimbang melihat Islam sebagai sebuah aturan-aturan fiqh
atau sekadar aktivitas politik.
Perkembangan pertama dari situasi ini adalah penerjemahan
karya-karya teologi Muslim dari kalangan literal yang memperjuangkan Islam
puritan, seperti Maulana Al-Maududi dari Pakistan. Perkembangan lain dari situasi ini adalah
kemunculan penerbit Mizan di Bandung pada tahun 1983. Sesuai dengan namanya Mizan
berupaya untuk memberikan gambaran Islam ideal yang seimbang.[15]
Mizan berusaha menerbitkan karya-karya pemikiran Islam kontemporer, baik yang
ditulis oleh intelektual Indonesia maupun luar negeri.
Setalah Mizan muncul penerbit Gema Insani Press (GIP),
yang berdiri pada tahun 1986 dan didirikan oleh Umar Basyarahil.[16]
Buku pertamanya yang diterbitkan adalah Perang Afganistan boleh dibilang
sukses. Ini kemudian diikuti oleh penerbitan-penerbitan karya-karya terjemahan
dari penulis-penulis Timur Tengah, seperti Sayyid Qutb, Muhammad Qutb, dan
Muhammad al-Ghazali, tetapi pada waktu-waktu selanjutnya, GIP banyak
menerbitkan buku-buku kecil tentang keluarga dan wanita, dan buku-buku petunjuk
agama atau ibadah, sehingga hal inilah yang membedakan dengan Mizan.
Sejak akhir-akhir tahun 1980-an, hingga tahun 1990-an
hingga memasuki abad 21, penerbitan buku-buku dan media Islam semakin
bertambah. Sejumlah penerbitan kecil banyak berdiri. Selain itu pula banyak
penerbit-penerbit besar yang juga mulai melebarkan sayap. Hal ini didasarakan
oleh kecendrungan permintaan pasar yang terus berkembang, tidak hanya dalam hal
buku-buku Islam, bahkan beberapa penerbit Islam, seperti Mizan, mulai membuka
lini atau sebuah anak perusahaan penerbit yang berkonsentrasi dalam satu
bidang. Teraju, misalnya yang mengkhususkan pada bidang-bidang filsafat
kontemporer, Qanita tentang isu-isu wanita, dan Kalifa tentang ilmu
pengetahuan dan teknologi, dengan pasar pembaca anak-anak.
Antusiasisme penerbit-penerbit dan beberapa media Islam
semakin bertambah sejak akhir abad 20 dimana buku-buku dan media-media Islam
telah memenuhi pasaran antara tahun 1998-2001,[17]
bahkan hingga sekarang penerbit buku Islam sudah mencapai sekitar 50
perusahaan, dan 60 persen berada di wilayah Jabotabek, sisanya tersebar di
Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, dan Surabaya, di samping sedikit penerbit
Islam yang berada di luar Jawa.[18]
Hal ini disebabkan karena sensor yang ketat dan pelarangan dalam dunia
perbukuan dan penerbitan telah ditinggalkan, yang dimulai sejak era Presiden
Habibie, dan kemudian diikuti oleh Presiden Abdurrahman.
Mengakhiri bagian ini, dan sebelum penulis memaparkan
beberapa penerbit-penerbit Islam secara detail serta beberapa kebijakan dan
ide-ide yang diterbitkan sebagai materi-materi dalam buku-buku dan media Islam
tersebut, penulis akan mencoba memberikan beberapa tipologi perkembangan yang
terjadi sejak awal kemunculan penerbitan sampai akhir abad ini.
Pertama,
fenomena buku-buku terjemahan dari bahasa Inggris yang menulis tentang Islam
semakin marak. Tulisan-tulisan para sarjana non-Muslim pun dipertimbangkan.
Untuk melakukan hal ini, beberapa penerbit menjalin kerjasama dengan penerbit
asing. Karya-karya Karen Amstrong, Bernard Lewis, dan beberapa sarjana asing
lainnya turut meramaikan dunia perbukuan Islam di Indonesia.
Kedua, buku-buku
Islam yang diterbitkan banyak seputar masalah wanita, pernikahan, dan keluarga
serta pengasuhan anak. Hal inilah yang banyak bermunculan menghiasi toko-toko
buku, meskipun buku-buku Islam yang ditulis oleh kalangan intelektual yang
menulis berbagai tema-tema Islam kontemporer tetap ada, tetapi jika
dibandingkan dengan tema-tema di atas, masih tetap kalah.[19]
Ketiga,
ada kecendrungan buku-buku dan media-media yang membuka ruang dialog
Kristen-Islam. Buku-buku yang bertemakan dialog Kristen-Muslim menjadi banyak
diminati. Sayangnya, buku-buku yang menghadirkan dialog ini sering juga
dipenuhi prasangka dan tujuan saling menjatuhkan. Sebagai misalnya, majalah dua
mingguan Sabili,[20]
yang selalu memberikan kolom khusus dalam majalahnya tentang dialog
Kristen-Islam dengan sudut pandang yang negatif. Beberapa buku-buku atau
beberapa media kecil yang menghadirkan dialog ini ada yang bertujuan untuk
merespon dialog antar-iman, ada juga yang hanya
sebagai counter didasari oleh anggapan adanya kristenisasi.
Selain buku-buku yang menghadirkan dialog antar-iman
dengan sudut pandang yang negatif dan penuh prasangka, ada sejumlah penerbit
yang menghadirkan dialog ini penuh dengan suasana yang damai, seimbang dan
tanpa prasangka. Misalnya buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit Paramadina.[21]
Diantara buku yang merupakan buku dialog antar-agama yang diterbitkan oleh
Paramadina adalah Passing Over, Melintas Batas Agama. Buku ini sampai
tahun 2001 sudah cetak ulang sebanyak tiga kali, pertama terbit tahun 1998,
kemudian tahun 1999, dan kemudian tahun 2001.[22]
Buku ini memuat tulisan-tulisan dari berbagai penulis lintas agama. Tema-tema
dialog antar-agama, kemungkinan kerjasama, dan toleransi di bahas di dalamnya.
Trend berikutnya yang mewarnai perkembangan buku-buku dan
media di Indonesia adalah kecendrungan polarisasi posisi dalam komunitas Islam
Indonesia sendiri. Dulu ketika tahun 1930-an, diketahui konfrontasi antara kaum
tua dan kaum muda, di mana kaum tua mewakili golongan konservatif, dan kaum
muda mewakili golongan modernis.[23]
Pada masa orde baru, juga terjadi polemik, misalnya dengan Nurcholis Madjid
dengan para kritikusnya. Kontroversi Islam Modern dan Islam Tradisional
diantara komunitas Muslim Indonesia.[24]
Saat ini polarisasi masih juga mewarnai buku-buku dan media Islam. Perdebatan
antara golongan literal dan liberal masih terasa hangat.[25]
Di luar jalur kontroversi Islam Literal dengan Islam
Liberal, munculnya aktivitas dan komunitas sufi baru seperti yang dimunculkan
oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), majlis dzikir Ustadz Arifin Ilham
juga masih dan bisa dimasukkan dalam trend penerbitan Islam baru. Sejumlah
buku-buku, buku saku, majalah yang memberikan tuntunan doa, ibadah, dan dzikir
banyak diterbitkan. Rata-rata pasar buku ini adalah kalangan Muslim menengah di
perkotaan. Masih dalam jalur Islam Sufi dan “Islam Mistik,” banyak juga majalah-majalah,
tabloid-tabloid yang menerbitkan cerita-cerita gaib dan misteri, seperti
majalah Hidayah, Hikayah, Realita. Majalah ini juga mendapat pasar yang
banyak dan menjadi trend baru, bukan hanya dalam media cetak, tetapi juga media
elektronik.[26]
Wajah
Islam dalam Penerbitan Islam Indonesia
Di atas telah dikemukakan beberapa kecendrungan pokok
yang menjadi perhatian beberapa penerbitan Islam di Indonesia. Diantara empat
kecendrungan di atas, penulis akan lebih mendalami kecendrungan keempat, yakni
mengenai polariasi komunitas Islam dalam dunia penerbitan Islam. Mengapa
polarisasi? Polarisasi ini dapat digunakan untuk melihat lebih jauh bagaimana
wajah Islam di Indonesia, karena polarisasi komunitas Islam dalam media—karena
didasarkan oleh komuitas pembaca Islam sendiri—adalah fenomena yang paling
mudah dilihat untuk melihat peta pemahaman Islam masyarakat Muslim Indonesia.
Dari pemahaman tentang peta itu, diharapkan mampu untuk membedah narasi yang
tak terbaca,
asumsi yang mendasari, dan ideologi dibalik wacana yang ditawarkan.
Untuk mempermudah kajian, penulis akan membatasi pada
lima penerbit yang akan dianalisis lebih jauh. Lima penerbit tersebut penulis
kira cukup representatif—meskipun tidak begitu saja dapat dibuat kesimpulan
umum—untuk melihat polarisasi komunitas Muslim Indonesia. Lima penerbit itu
adalah Mizan, Gema Insai Press (GIP), LkiS, Al-Kautsar, Khairul Bayan.[27]
Mizan. Saat
ini Mizan sedikit berbeda dengan 20 tahun yang lalu, meskipun terkadang masih
saja menerbitkan karya-karya penulis Syi’ah,[28] dan
penulis-penulis Ikhwanul Muslimin. Mizan sekarang lebih mengusung keagamaan
yang moderat, sebuah Mazhab Tengah.[29]
Sesuai dengan namanya Mizan, penerbit Mizan berupaya untuk
menghadiran Islam yang moderat, ilmiah, serta pandangan yang luas tentang
Islam. Atas dasar ini, Mizan banyak menerbitkan buku-buku yang banyak dijadikan
referensi bagi kalangan Muslim terpelajar, sebut saja Enliklopedi Dunia
Islam yang diterjemahkan dari karya John Esposito dalam bahasa Inggris, dan
Ensiklopedi Spiritual Islam karya terjemahan Seyyed Hossein Nasr. Buku-buku
tentang filsafat Islam, Tasawwuf, dan tentang tema-tema Islam Kontemporer juga
banyak diterbitkan oleh Mizan. Diantara buku-buku itu ada yang merupakan karya
penulis Indonesia, dan ada juga karya penulis asing, baik penulis Timur Tengah
maupun penulis Barat.
Gema Insani Press. GIP adalah salah satu penerbit Islam besar setelah Mizan, dengan jumlah
judul 481. GIP berpusat di Jakarta. Pada tahun-tahun awal keberadaannya GIP
banyak menerbitkan karya-karya penulis Ikhwanul Muslimin, yang kemudian banyak
menjadi bahan rujukan dan digemari para mahasiswa Islam umum. Buku-buku GIP
banyak menjadi bahan rujukan bagi aktivitas tarbiyah, atau ta’lim dalam
jama’ah-jama’ah pengajian mahasiswa di kampus-kampus umum.[30]
Kelompok-kelompok atau jama’ah-jama’ah pengajian di kampus-kampus ini pada
akhirnya banyak mendukung berdirinya Partai Keadilan Sejahtera.[31]
Saat ini GIP mulai mengembangkan buku-buku terbitannya untuk tujuan menyediakan
bacaan yang memberikan tuntunan beragama dalam kehidupan sehari-hari, biografi
singkat tokoh-tokoh Muslim, buku-buku tuntunan ibadah, dan nasehat-nasehat
keagamaan.[32]
Secara umum, GIP masih tetap menerbitkan karya
tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin dan simpatisan mereka, yang merupakan lawan dari
Islam Liberal. Lebih jauh GIP lebih sering memberikan pembelaan terhadap ajaran
Islam yang lebih literal dan puritan.
LKiS.[33]
Dalam skala operasi, judul, dan target pembacanya, LKiS kontras dengan GIP.[34]
LKiS mengkhususkan pada penerbitan buku-buku Islam yang berhaluan kiri dan
liberal, yang dikaitkan dengan sayap kiri kaum muda NU. Kebanyakan buku-buku yang
diterbitkan oleh LKiS juga adalah terjemahan dari penulis-penulis asing, baik
dari kalangan sarjana-intelektual Barat Non-Muslim maupun kalangan pemikir
progresif Timur Tengah dan Asia, baik Muslim maupun Non-Muslim.[35]
Buku pertama LKiS yang diterbitkan adalah Kiri Islam[36]
dipertengahan tahun 1996. Buku ini mendapat sambutan yang cukup bagus oleh
pembaca, bahkan mengalami beberapa kali cetak ulang.
Selain LKiS, ada beberapa penerbit Islam yang berhaluan
kiri dan liberal lain, diantaranya LKPSM-SYARIKAT dan elSAQ di Yogyakarta,
serta Jaringan Islam Liberal dan Paramadina di Jakarta. Tentunya juga beberapa
penerbit-penerbit Islam kiri lainnya.
Pustaka Al-Kautsar. Penerbit ini hampir sama dengan GIP dalam hal orientasi keagamaan dan
buku-buku yang diterbitkan, baik mengenai nasehat keagamaan maupun tuntunan
fiqh praktis sehari-hari. Penerbit ini juga banyak menerbitkan buku-buku kecil
dalam bentuk saku. Pendekatan literalis begitu kuat dalam penerbitan ini.
Diantara kebijakan penerbit ini adalah mengkoreksi segala hal yang dianggap
menyimpang, sehingga buku-buku yang diterbitkan tampak amat bergairah untuk
melakukan pembenaran atas paham-paham keagamaan yang dianggapnya sesat.
Salah satu penulis yang digadang-gadang oleh Pustaka
Al-Kautsar adalah Hartono Ahmad Jaiz. Beberapa buku yang ditulisnya adalah Aliran
dan Paham Sesat di Indonesia, Bila Kyai Dipertahankan: Membedah Sikap
Beragama NU, Bahaya Pemikiran Gus Dur: Menyakiti Hati Umat, Ada
Pemurtadan di IAIN, Kekeliruan Logika Amien Rais, Ambon Bersimbah
Darah: Ekspresi Ketakutan Ekstrimis Nasrani, dan beberapa buku lainnya.
Salah satu buku yang menjadi best seller adalah The
Choice: Dialog Islam dan Kristen, yang ditulis oleh Ahmad Deedat, seorang
berkebangsaan Afrika.[37]
Ini adalah buku dialog Islam-Kristen dengan sudut pandang yang penuh dengan
kecurigaan dan menyudutkan pihak umat Nasrani.
Khairul Bayan. Ini
adalalah penerbit kecil. Hampir sama dengan Pustaka Al-Kautsar, Khairul Bayan
juga kontra dengan liberalisme dan sufisme. Watson melihat penerbit ini lebih
memiliki keterkaitan dengan Partai Bulan Bintang (PBB), sebuah partai Islam
yang berafiliasi pada Masyumi. PBB dikenal sangat agresif menentang liberalisme.
Khairul Bayan banyak menerbitkan majalah-majalah dan Buletin Islam. Al-Insan
adalah buletin Jum’atan yang disebarkan ke setiap masjid pada hari Jum’at.
Khairul Bayan juga menerbitkan majalah keluarga Islam mingguan Fikri,
dan majalah Insani, sebuah majalah Islam umum, serta majalah Alia,
sebuah majalah wanita muslim.
Satu hal yang penting juga dilihat adalah terbitnya
Jurnal Bulanan Islamia yang mulai terbit pada Maret 2004. Jurnal
ini muncul atas gagasan yang timbul karena pertemuan Edy Setiawan, pemilik
Khairul Bayan dengan Adian Husaini, seorang mahasiswa doktor dan staf pada
Institute for the Study of International Islamic Thought and Civilitation
(ISTAC) di International Islamic University Malaysia, di Kuala Lumpur.[38] Islamia
diedit oleh Hamid Fahmy Zarkasyi, yang juga cukup kontra dengan pendekatan
modernis-liberal dalam tafsir al-Qur’an. Dengan demikian Islamia adalah
representasi dari Khairul Bayan yang bercita-cita juga untuk mengkoreksi
pandangan Islam liberal.
Analisis
dan Kesimpulan
Deskripsi di atas memberikan gambaran tentang keberagaman
pemahaman Islam yang muncul dalam publikasi-publikasi, baik media massa maupun
buku-buku Islam. Secara umum, dan pada akhirnya dengan gambaran di atas, dapat
dipahami bagaimana wajah Islam di Indonesia. Islam Indonesia adalah Islam yang
penuh “warna-warni”, bukan Islam yang tunggal atau Islam yang homogen. Islam
Indonesia adalah Islam yang hidup dalam kehidupan nyata Muslim Indonesia.
Paling tidak ada tiga kecendrungan pokok dalam pemahaman
Islam masyarakat Islam Indonesia—berdasarkan gambaran beberapa penerbitan di
atas, yakni: Islam Moderat, Islam Liberal, dan Islam Literal.[39]
Kalau tiga tipologi pemahaman Islam ini dibaca dengan
alur tipologi yang telah dikemukakan oleh beberapa penulis,[40]
maka akan dapat disejajarkan dengan tipe pemahaman Islam Akomodatif-Realistik,
Islam Substansialis-Etik, dan Islam Skriptualistik-Formalistik.
Pertama,
Pemahaman Islam Akomodatif pada awalnya lebih dipengaruhi dengan aspirasi
politik Muslim pada masa orde baru, pada masa itu sikap cendikiawan Muslim banyak
melakukan konfrontasi dengan kebijakan politik-politik pemerintah, sehingga
aspirasi Muslim tenggelam. Dari sini kemudian, beberapa cendikiawan Muslim
mulai melihat pentingnya mengubah sikap, kebijakan-kebijakan pemerintah perlu
dipertimbangkan agar aspirasi Muslim kembali muncul dipermukaan yang merupakan
kebutuhan yang kian mendesak. Penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal adalah
bagian dari sikap akodomatif ini. Dalam skala yang luas, Islam Akomodatif ini
berusaha menunjukkan keluwesan Islam ketika berhadapan dengan dunia modern,
tetapi dengan tetap melanggengkan nilai-nilai keislaman yang ketat dan lama.
Penulis mempunyai pemahaman lain tentang Islam
Akomodatif-Realistik ini. Penulis melihat Islam Moderat (Mazhab Tengah) lebih
sesuai untuk memberikan pengertian akomodatif. Islam akomodatif adalah Islam
yang mengambil jalan tengah untuk menjaga terjadinya konfrontasi umat dengan
kemodernan. Islam akomodatif adalah Islam yang mengambil jalan tengah antara
Islam Liberal dengan Islam Literal, sehingga wataknya yang liberal tidak begitu
terlihat, begitu juga wataknya yang literal-puritan juga tidak terlalu
terlihat. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang sebenarnya dibela oleh Islam
Moderat. Kalau sikap moderat tiba-tiba hanya melanggengkan sebuah rezim
tertentu, atau semata-mata mengikuti selera pembaca dengan maksud meraup
keuntunangan, maka sebenarnya dia sudah tidak lagi moderat. Inilah yang penulis
maksud analisis tak terbaca perlu segera dilakukan.
Kedua, Islam
Substansialis-Etik dan Islam Skriptualis-Formalistik. Menurut penulis kedua
tipologi Islam ini sama-sama mempunyai kelemahan, sebelum kita melihat
kelebihan dari masing-masing model. Kelemahan dari dua tipologi ini adalah
sering kali gagasan-gagasan yang mereka usung hanya sampai pada kalangan elit
atau kelas mengah ke atas. Hanya yang berbeda pada pemahamannya saja, daya
serap di masyarakat keduanya amat lemah. Tampaknya “Islam Sufistik” sebagaimana
yang diusung oleh Aa Gym dan Arifin Ilham lebih bisa diterima oleh kalangan
masyarakat secara luas, meskipun dalam tingkat tertentu Islam model ini juga
bisa dimasukan dalam barisan Islam Literal. Kalau dua model pamahaman Islam di
atas—Substansial dan Skriptualistik—tetap hanya mempertahankan cara-cara mereka
dalam menyebarkan gagasan, maka sebenarnya mereka hanya memperjuangkan status
mereka, yakni kalangan elit Islam Liberal dan kalangan elit Islam Literal,
padahal kaum Muslim di desa-desa membutuhkan ajaran agama yang membebaskan,
baik dalam aspek sosial maupun ekonomi. Inilah yang sering kali tidak terbaca
dan tampak halus dalam berbagai tipologi pemikiran dan gerakan Islam yang ada.
Akhirnya penting menjadi bahan kajian dan penelitian
lebih lanjut adalah mengapa masyarakat lebih menerima Islam Sufistik
sebagaimana telah diurai di atas atau mengapa buku-buku yang lebih pada
bimbingan ibadah, tuntunan keluarga, tuntunan wanita, cara mendidik anak lebih
disukai oleh pembaca Muslim ketimbang buku-buku karya intelektual-Muslim?
Mengapa banyak penerbit-penerbit yang berhaluan liberal atau moderat tidak
mencoba cara-cara yang dilakukan oleh penerbit yang berhaluan literal dalam hal
menerbitkan buku-buku yang lebih praktis sifatnya.
Daftar Pustaka
Buku dan Jurnal
Aay Muhammad Furqon, Partai
Keadilan Sejahtera: Ideologi dan Praksis Politik Kaum Muda Muslim Indonesia
Kontemporer, Jakarta: Teraju, 2004
Agus Moh Najib, “Paradigma
Keilmuan Non-Dikhotomi dan Aplikasinya Pada Pembentukan Fakultas dan Program
Studi di UIN Sunan Kalijaga,” dalam Jurnal Penelitian Agama, Vol. XIV,
NO. 1 Januari-April 2005
Alex Sobur, Analisis Teks
Media: Suatu Pengantar untuk Anlisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis
Framing, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002
Ali Said Damanik, Fenomena
Partai Keadilan: Transformasi 20 Tahun Gerekan Tarbiyah di Indonesia,
Jakarta: Teraju, 2003.
A Qodri Azizy, Pengembangan
Ilmu-Ilmu Keislaman, Semarang: Penerbit Aneka Ilmu, 2004
Azyumardi Azra, “Kecendrungan
Kajian Islam di Indonesia”, dalam Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi
dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999
Barton, Greg, Gagasan Islam
Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan
Efendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid, Jakarta: Paramadina, 1999
Bachtiar Efendy dan Fachry Ali, Merambah
Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Masa Orde Baru, Bandung:
Mizan, 1992
Barthes, Rolland, Elements of
Semiolgy, New York: Hill and Wang, 1998
----------, Mythologies,
London: Vintage Books, 1993
Ecols, John, Hassan Shadilly, Kamus
Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia, 1995
Dhavamoni, Mariasusai,
Fenomenolgy of Religion, terj. Kelompok Studi Agama Driyarkara, Yogyakarta,
Kanisius, 1995
Deliar Noer, Gerakan Modern
Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES, 1996
Gabriel, Theodore, “Islam in the
Media, How it is Pictured and How it Pictures Itself” dalam Majalah Concilium,
Inggris, 2005
Haidar Bagir, “Mereka-reka
“Mazhab” Mizan: Sebuah Upaya “Soul Searching”, dalam Haidar Bagir (ed), 20 Tahun Mazhab Mizan 1983-2003:
Menjelajah Semesta Hikmah, Bandung: Mizan, 2003
Harun Nasution, “Klasifikasi Ilmu
dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perspektif,” dalam M Deden Ridwan (ed), Tradisi
Baru Penelitian Agama Islam: Tinjauan antar Disiplin Ilmu,Bandung: Penerbit
Nuansa, 2001
Ihsan Ali Fauzi, “Pemikiran Islam
Indonesia Dekade 1980-an”, dalam Prisma 3 Maret 1991
Imam Suprayogo, Tobroni, Metodologi
Sosial-Agama, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2003
Kris Budiman, Kosa-Semiotika,
Yogyakarta: LKiS, 1999
M Amin Abdullah, Islamic
Studies di Perguruan Tinggi, Pendekatan Integratif-Interkonektif,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006
M Atho Mudzhar, Pendekatan
Studi Islam Dalam Teori dan Praktek,Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998
Moeslim Abdurahman, “Menyimak
Pemikiran Islam: Sebuah Sketsa Kontemporer”, dalam Moeslim Abdurrahman, Islam
Transformatif, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997
M Syafii Anwar, Pemikiran
Islam dan Aksi Islam Indonesia, Jakarta: Paramadina, 1995
Munir Ba’alabaki, al-Maurid,
Beirut: Dar al-‘Ilm lil al-Malayyin, 1979
Nurkhalik Ridwan, Agama
Borjous: Kritik Atas Nalar Islam Murni, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2004
Peters, Jeroen, “Islamic Book
Publishers in Indonesia: A Social Network Analysis”, dalam Paul Van der Velde
dan Alex Mckay (eds), New Development in Asian Studies, London: Kegen
Paul, 1999
Putut Widjanarko, “Kebangkitan
Generasi Baru: Penerbitan Buku Islam dan Masyarakat Islam di Indonesia”, dalam
Haidar Bagir (ed), 20 Tahun Mazhab Mizan 1983-2003: Menjelajah Semesta
Hikmah, Bandung: Mizan, 2003
Sassure, Ferdinand, Linguistik
Umum, terj. Rahayu S Hidayat, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
1988
Sunardi, Semiotika Negativa,
Yogyakarta, Buku Baik, 2004
Tim Penyusun, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002
Watson, CW, “Islamic Books and
Their Publishers: Notes On The Contemporary Indonesian Scene,” dalam Journal
of Islamic Studies 16:2, 2005
Zuly Qodir, Pembaharuan
Pemikiran Islam: Wacana dan Aksi Islam Indonesia, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2006
Web Site
[1] Watson, CW, “Islamic Books and Their Publishers:
Notes On The Contemporary Indonesian Scene,” dalam Journal of Islamic
Studies 16:2, 2005, p. 177
[2] Lihat Kris Budiman, Kosa-Semiotika
(Yogyakarta: LKiS) dalam bagian “Naratologi”. Lihat juga Ecols, John, Hassan
Shadilly, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1995), p.390. Juga
lihat Munir Ba’alabaki, al-Maurid (Beirut: Dar al-‘Ilm lil al-Malayyin,
1979), p.604.
[3] Ridwan, Nurkhalik, Agama Borjous: Kritik Atas
Nalar Islam Murni (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2004), p.29
[4] Untuk eksplorasi lebih jauh mengenai konsep
semiotik, bisa dilihat dalam Sunardi, Semiotika Negativa (Yogyakarta,
Buku Baik, 2004). Lihat juga Barthes, Rolland, Elements of Semiolgy (New
York: Hill and Wang, 1998). Semiotika, juga sering kali disebut dengan
semiologi adalah ilmu tentang tanda. Tokoh penting yang dianggap sebagai ilmu
tentang tanda ini adalah Ferdinad de Saussure, seorang ahli Linguistik. Dari
teorisisasi dia mengenai hubungan antara language, parole, dan lenggage, serta
hubungan antara penanda-petanda, sintagmatik-paradigmatik, maka lahirlah
semiotika. Untuk lebih jauh mengenai gagasan Sassure, baca Sassure, Ferdinand, Linguistik
Umum, terj. Rahayu S Hidayat (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
1988).
[5] Tentang penjelasan Barthes tentang mitos baca
Barthes, Rolland, Mythologies (London: Vintage Books, 1993). Dan juga
Sunardi, ibid, p.85.
[6] Sunardi, ibid, p. 74
[7] Ibid, p.132
[8] Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar
Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framming (Bandung: PT. Remaja
Rosda Karya, 2002), p.66
[9] Watson, C.W, Op.cit, p.180
[10] Untuk Survei lebih lengkap mengenai sejarah awal
penerbitan Islam lihat Putut Widjanarko, “Kebangkitan Generasi Baru: Penerbitan
Buku Islam dan Masyarakat Islam di Indonesia”, dalam Haidar Bagir (ed), 20
Tahun Mazhab Mizan 1983-2003: Menjelajah Semesta Hikmah (Bandung: Mizan,
2003), p. 17-30. Lihat juga Peters, Jeroen, “Islamic Book Publishers in
Indonesia: A Social Network Analysis”, dalam Paul Van der Velde dan Alex Mckay
(eds), New Development in Asian Studies (London: Kegen Paul, 1999),
p.209-222.
[11] Watson, Op.cit, p.181
[12] Ibid, p.182
[13] Ibid
[14] Ibid, p.183
[15] Ibid, p.184
[16] Putut Widjanarko, “Kebangkitan Generasi Baru:
Penerbitan Buku Islam dan Masyarakat Islam di Indonesia”, dalam Haidar Bagir
(ed), 20 Tahun MAzhab Mizan 1983-2003: Menjelajah Semesta Hikmah
(Bandung: Mizan, 2003), p.23
[17] Watson, Opcit, p.188
[18] Sumber ini diperoleh dari keterangan Iwan
Setiawan, Wakil Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta, dalam www.republika.co.id,
diakses tanggal 22-03-2007
[19] Sejumlah buku-buku bertemakan wanita, keluarga,
dan pendidikan anak banyak diminati, hal ini bisa dilihat dalam jumlah oplah
penjualan buku-buku tersebut. Seperti buku berjudul 20 Tahun Cinta yang
diterbitkan oleh Penerbit Utama Akbar Media cetak ulang dalam waktu sebulan,
bahkan buku Indahnya Poligami dalam waktu seminggu sudah cetak ulang.
Buku Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu sudah cetak sebanyak
100.000 eksemplar (Republika, 28 Maret 2004). Buku fenomenal La Tahzan
yang ditulis oleh intelektual mesir kontemporer Dr. ‘Aid al-Qorni sudah
beberapa kali cetak ulang (17 Maret 2006). Diambil dari www.republika.co.id,
diakses tanggal 3 Maret 2007.
[20] Sabili, adalah majalah Islam yang terbit
dua mingguan, majalah ini banyak menyuguhkan pemberitaan-pemberitaan yang
isinya kebanyakan anti-Barat dan anti-Kristen.
[21] Paramadina adalah pada awalnya sebuah lembaga
kajian Islam yang didirikan oleh Nurcholis Madjid pada tahun 1986. Paramadina
didirikan bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai universal Islam dalam
konteks tradisi-tradisi lokal Indonesia. Sasaran Paramadina adalah kalangan
Muslim menengah ke atas. Untuk melihat keterangan lebih jauh mengenai
Paramadina lihat Azyumardi Azra, “Kecendrungan Kajian Islam di Indonesia”,
dalam Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium
Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), p.179. Lihat juga Moeslim
Abdurahman, “Menyimak Pemikiran Islam: Sebuah Sketsa Kontemporer”, dalam
Moeslim Abdurrahman, Islam Transformatif (Jakarta: Pustaka Firdaus,
1997), p.95. Lihat juga Ihsan Ali Fauzi, “Pemikiran Islam Indonesia Dekade
1980-an”, dalam Prisma 3 Maret 1991, p.30
[22] Buku ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Wakaf
Paramadina dengan Penerbit Gramedia Jakarta.
[23] Mengenai debat antara kaum tua dengan kaum muda,
bisa dilihat dalam Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942
(Jakarta: LP3ES, 1996).
[24] Watson, Op.cit, p.190
[25] Terbitnya Syir’ah sebuah majalah Islam
Moderat yang sengaja diterbitkan untuk menandingi majalah-majalah Islam Radikal
seperti Sabili, Hidayah, dan Saksi, adalah juga bentuk
debat publik lewat media yang merupakan bentuk polarisasi komunitas Muslim
Indonesia itu sendiri menjadi misalnya Islam Radikal dengan Islam Liberal.
Untuk keterangan lebih lanjut mengenai terbitnya majalah Syir’ah, silahkan
lihat wawancara dengan Alamsyah M. Ja’far Pimpinan Majalah Syir’ah dengan
Novriantoni dalam www.islamlib.com//Mutu Jurnalistik Media
Islam Sangat Lemah. Diup date tanggal 22 Maret 2007
[26] Sejumlah Sinetron Religius banyak menghiasi
acara-acara televisi. Hal ini menunjukkan bahwa tema-tema religius dan mistis
juga amat digemari oleh masyarakat Muslim Indonesia. Kebanyakan
sinetron-sinetron ini diangkat dari majalah-majalah bercorak Sufi dan Mistik di
atas.
[27] Di sini penulis bukan terjebak pada arus besar
penerbitan, tanpa melihat beberapa penerbit kecil, hal ini dimaksudkan untuk
mempermudah analisis. Analisis terhadap lima penerbit ini juga sepenuhnya
mengikuti pembagian tipologi penerbit yang dilakukan oleh Watson dengan
beberapa tambahan penjelasan dan analisis yang kurang dilakukan oleh Watson,
lihat Watson, Op.cit, p.191-203.
[28] Keterkaitan Mizan dengan pemikiran-pemikiran
Syi’ah adalah diilhami oleh sebuah penerbit kecil, Muthahari Press, yang
merupakan bagian dari Yayasan Al-Muthahari yang didirikan oleh Jalaluddin
Rahmat. Jalaluddin Rahmat mempunyai pengaruh besar pada kebijakan penerbitan di
awal-awal berdirinya Mizan. Lihat Haidar Bagir (ed), Op.cit.
[29] Tentang ide Mazhab Tengah, lihat tulisan Haidar
Bagir, “Mereka-reka “Mazhab” Mizan: Sebuah Upaya “Soul Searching”, dalam Haidar
BAgir (ed), Op.cit.
[30] Watson, Op.cit, p.194
[31] Keterkaitan gerakan Tarbiyah pada beberapa
mahasiswa Islam di Indonesia dengan berdirinya Partai Keadilan, silahkan lihat
Ali Said Damanik, Fenomena Partai Keadilan: Transformasi 20 Tahun Gerekan
Tarbiyah di Indonesia (Jakarta: Teraju, 2003). Lihat juga Aay Muhammad
Furqon, Partai Keadilan Sejahtera: Ideologi dan Praksis Politik Kaum Muda
Muslim Indonesia Kontemporer (Jakarta: Teraju, 2004).
[32] Beberapa judul diantaranya: Berjabat Tangan
dengan Perempuan, Islam Kiri: Kebohongan dan Bahayanya, Bolehkan
Wanita Menjadi Imam, Syura Bukan Demokrasi, Tafsir fi Zhilalil al-Qur’an
karya Sayyid Quthb, Fatwa-Fatwa Kontemporer Yusuf al-Qardhawi, dan Meraih
Bening Hati dengan Manajemen Qolbu karya KH. Abdullah Gymnastiar.
[33] Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) adalah
pada awalnya sebuah lembaga kajian Islam Kritis. Didirikan pada tahun 1993 oleh
beberapa mahasiswa dan anak muda NU di Yogyakarta yang dipimpin oleh Jadul
Maula.
[34] Watson, Op.cit, p.196
[35] Diantara para penulis itu adalah Andree Felliard,
Greg Fealy, Gred Barton, Martin van Bruinessen, Robert W Hefner, Mark Woodward,
Ben Anderson, James Siegel, dan Clifford Geertz. Untuk penulis-penulis
Non-Indonesia Muslim adalah diantaranya Asghar Ali Engineer, Nasr Hamid Zayd,
Muhammad Abid al-Jabiri, dan Hasan Hanafi.
[36] Buku ini ditulis oleh Kazuo Shimogaki asal Jepang
dengan judul asli Between Modernity and Postmodernity: The Islamic Left and
Dr Hasan Hanafi’s Thought, A Critical Reading. Abdurrahman Wahid menulis
untuk bagian pendahuluan buku ini.
[37] Watson, Op.cit, p.200
[38] Ibid, p.202
[39] Bandingkan
dengan tulisan Novriantoni, “Membaca
Peta Industri Perbukuan Islam,” dalam www.islamlib.com, senin 26 Maret 2007,
diupdate taggal 26 Maret 2007. Tulisan ini penulis temukan ketika tulisan ini
sudah selesai dibuat, bahkan sudah tahap akhir. Norvriantoni membagi corak atau
model buku-buku Islam menjadi tiga model, yakni model Islam Puritan/Radikal,
model Islam Moderat/Akomodisianis,dan model Islam Progresif Liberal. Kekurangan
tulisan Novriantoni adalah analisis yang kurang mendalam sampai taraf pembacaan
narasi tak terbaca.
[40] Diantaranya Bachtiar Efendy dan Fachry Ali, Merambah
Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Masa Orde Baru (Bandung:
Mizan, 1992), Barton, Greg, Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran
Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan Efendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman
Wahid (Jakarta: Paramadina, 1999), M Syafii Anwar, Pemikiran Islam dan
Aksi Islam Indonesia (Jakarta: Paramadina, 1995), dan Zuly Qodir, Pembaharuan
Pemikiran Islam: Wacana dan Aksi Islam Indonesia (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2006).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar