Sabtu, 08 Februari 2014

Wajah Islam dalam Dunia Penerbitan di Indonesia: Sebuah Pembacaan Beberapa Perkembangan Mutakhir Perbukuan Islam di Indonesia

Gelombang kebangkitan media juga diiringi dengan banyaknya bermunculan beberapa industri penerbitan, baik penerbitan surat kabar, majalah, atau buku-buku bacaan. Dalam kasus Islam dan masyarakat muslim Indonesia, dalam dua dekade terkakhir, penerbitan Islam di Indonesia begitu pesat pertumbuhannya.[1] Buku-buku atau media Islam lain dapat dengan mudah kita temukan, baik dalam arena pameran-pameran buku Islam, beberapa toko buku Islam, atau toko-toko buku umum yang menyediakan dan menjual buku Islam. Selain itu pula, beberapa media seperti majalah, tabloid, atau pamflet dapat juga dengan mudah didapatkan di pinggir-pinggir jalan, di toko-toko kecil, atau di agen-agen. Secara paradoks, sering kali tabloid-tabloid Islam dengan cover depan seorang wanita yang berbusana muslim formal bersandingan dengan tabloid-tabloid atau majalah dewasa atau majalah pria dewasa dengan cover gambar wanita yang berpenampilan seronok.

Beberapa penerbitan Islam yang memang secara khusus menyediakan bacaan Islam kepada komunitas muslim Indonesia, dan beberapa penerbitan lain yang umum pun turut serta membuka cabang atau memproduksi buku-buku Islam. Sebut saja Mizan, sebagai penerbit yang memang menyediakan bacaan Islam sedari awal kemunculan penerbitannya. Sedangkan untuk penerbitan umum yang juga memproduksi buku-buku Islam adalah penerbit Erlangga, Gramedia, dan Remaja Rosda Karya. Tentu masing-masing mempunyai sudut pandang yang berlainan dalam hal tema yang diterbitkan oleh masing-masing penerbit.
Menjadi menarik, manakala buku-buku atau lebih umumnya penerbitan-penerbitan itu telah cukup mempunyai segmentasi pasar yang jelas, oleh karena itu kita dapat secara mudah untuk memperhatikan bagaimana kecendrungan pemahaman ajaran Islam komunitas muslim Indonesia dari buku-buku yang mereka baca. Hal ini berarti lewat buku-buku atau media-media itulah muslim Indonesia direpresentasikan.
Tulisan ini mengkaji bagaimana muslim Indonesia mengkomunikasikan ide-ide mereka dalam buku-buku atau media Islam. Kajian ini menjadi penting untuk melihat keragaman pemahaman Islam pada masyarakat muslim Indonesia. Dengan ini, maka dapat digambarkan bagaimana perkembangan ide-ide, atau pemikiran-pemikiran dan topik-topik diskusi yang muncul pada masyarakat Muslim Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan adalah apa yang melatarbelakangi tumbuh pesatnya buku-buku dan media-media Islam?; Materi-materi apa yang banyak muncul dan populer dalam buku-buku dan media-media Islam? Dua pertanyaan tersebut diharapkan dapat menjawab bagaimana peta pemahaman keagamaan muslim di Indonesia, hal ini bisa dilihat dengan memperhatikan segmentasi pembaca dari penerbit Islam. Pada akhirnya kajian ini mampu memberikan gambaran secara empiris “wajah” Islam Indonesia yang beragam.
Dalam membaca dan mengkaji fenomena-fenomena keberadaan penerbitan Islam, penulis akan meminjam pendekatan struktural-semiotik. Pendekatan struktural-semiotik ini dalam operasionalnya akan dilakukan dengan analisis surface structure (struktur permukaan) dan deep structure (struktur dalam).
Struktur permukaan adalah narasi yang terbaca. “Narasi” ini menunjuk pada upaya untuk menceritakan.[2] Pada dasarnya narasi adalah noun (kata benda) yang berarti cerita, tepatnya cerita tentang pengetahuan. Namun, cerita disini tidak akan terbentuk cerita tanpa sebuah upaya menceritakan. Cerita tentang pengetahuan adalah cerita tentang fakta-fakta, dan bukan hanya sekadar cerita dongeng atau mitos.[3]
Dalam analisis ini akan menggunakan konsep penanda-petanda (signifier-signified) dalam teori semiotika.[4] Penulis dalam tulisan ini akan mengemukakan fakta-fakta kemunculan beberapa penerbitan Islam di Indonesia. Inilah yang akan penulis jadikan sebagai penanda, yakni yang tampak, berupa fakta-fakta, dan gagasan dari beberapa penerbit Islam yang ada. Tidak hanya fakta-fakta atau wujud keberadaan penerbit-penerbit Islam, tetapi juga gagasan-gagasan yang dibangun lewat penerbitan itu.
Fakta-fakta adanya penerbitan yang muncul, dan gagasan serta materi yang dimunculkan dalam media dan buku-buku yang diterbitkan itu mengacu pada petanda, atau konsep yang pada akhirnya akan memberikan sebuah makna. Kalau dinarasikan atau dikalimatkan, maka akan muncul misalnya kalimat “munculnya media-media dan penerbit Islam menandakan/bermakna....”, “kebanyakan ide-ide, gagasan-gagasan, atau materi-materi yang disajikan oleh penerbit-penerbit Islam adalah....maka hal ini berarti/bermakna...” dan lain sebagainya.
Perlu diingat, pembacaan ini baru pada tahap permukaan, artinya baru pada tahap makna yang segera tampak lewat pembacaan-pembacaan tadi, dan belum menyentuh pada struktur dalam sebuah gagasan.
Dalam analisis pada level kedua, yakni struktur dalam, penulis meminjam teorisasi Rolland Barthes tentang mitos dan ideologi.[5] Dalam bahasa Barthes, struktur luar adalah signification tingkat pertama, sedangkan struktur dalam adalah signification tingkat kedua.
Bagi Barthes, mitos adalah sistem semiotik (signification) tingkat kedua (sekunder), yang merupakan bentuk konotasi dalam sistem pemaknaan. Barthes mendefinisikan mitos sebagai "a type of speach". Disebut speach (wicara) karena mitos adalah cara orang berbicara atau mitos adalah juga bagian dari bahasa yang memiliki pesan; pesan itu adalah pesan konotatif. Mitos ini berfungsi untuk mendistorsi dan mendeformasi kenyataan (makna tingkat pertama). Akan tetapi distorsi dan deformasi itu terjadi sedemikian rupa sehingga pembaca mitos tidak menyadarinya (sehingga terjadi naturalisasi). Akibatnya lewat mitos-mitos itu akan lahir berbagai stereotype tentang suatu hal. Mitos ini dibuat dengan menggunakan sistem semiotik tingkat pertama sebagai penanda bagi sistem sistem semiotik tingkat kedua. Penanda baru ini disebut form dan petandanya disebut concept. Hubungan antara form dan concept yang baru ini kemudian disebut mitos.[6] Untuk memahami konsep mitos Barthes ini, bisa dilihat gambar di bawah ini.
Gambar 1.
(Penanda) Exspression (1)
(Petanda) Content (1)
Exs (2)
Cont (2)

(Mitos) Konotasi


Bagi Barthes, mitos berfungsi sebagai cara untuk menaturalisasikan apa yang sesungguhnya tidak natural dan historis. Yang tidak natural dan historis ini adalah konsep yang muncul pada zaman, tempat, dan masyarakat tertentu. Lewat sistem mitos, konsep ini dipakai menjadi seolah-olah natural, dan itulah ideologi. Dengan demikian ideologi membuat konsep-konsep seolah-olah tidak bermasalah (innocent).[7]
Masalah dimunculkan oleh kenyataan media dan publikasi yang sering kali menggambarkan Islam dengan kurangnya pengetahuan yang mendalam mengenai Islam  yang direpresentasikan oleh media itu. Oleh karena itu pengetahuan Islam yang dimunculkan oleh media dan buku-buku Islam sering kali hanya sepintas lalu, tidak mendalam, hanya pada tataran superficial (permukaan), karenanya sering kali terdistorsi, sehingga seakan-akan menjadi natural. Istilah-istilah seperti fundamentalisme dan terorisme sering kali begitu saja dilekatkan dengan Islam tanpa menilai terlebih dahulu kesesuaian dengan konteks atau tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan implikasi-implikasi yang muncul dari istilah-istilah tersebut. Sering kali pemahaman-pemahaman Islam itu dijadikan sebuah keyakinan yang menjadi ideologi  (pada awalnya menjadi mitos), yang merupakan kesadaran palsu. Kesadaran palsu ini digunakan sebagai alat legitimate bagi kekuasaan dominan atau bagi anggota kelompok tertentu untuk menguasai.[8]
Kalau beberapa kajian terdahulu lebih sering melihat perkembangan pemikiran Islam dengan melihat tema-tema yang muncul yang dicetuskan oleh tokoh-tokoh pemikir Islam, maka signifikansi tulisan ini terletak pada gambarannya tentang perkembangan gagasasn atau ide tentang Islam yang menyentuh lapisan bawah atau masyarakat muslim secara luas, sehingga pemetaan Islam yang cenderung elitis dapat dikurangi, karena tidak sepenuhnya menggambarkan pemikiran-pemikiran muslim lapisan menengah ke bawah.
Kemunculan Penerbitan Islam: Sejarah Ringkas
Di awal tahun 1970-an, dunia penerbitan Indonesia secara umum sangat memprihatinkan.[9] Pengaruh krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1960-an masih terasa, termasuk dalam dunia industri penerbitan. Pada tahun 1970 Surat Kabar Harian Kompas mampu menerbitkan hanya 4 halaman setiap hari. Koran harian Muslim nasional Harian Abadi, yang didirikan oleh kaum modernis Islam juga hanya menerbitkan empat halaman setiap hari. Hal ini juga terjadi pada  buku-buku Islam, hanya sedikit buku-buku baru yang diterbitkan. Balai Pustaka, sebuah penerbit milik pemerintah hanya dapat survive, tetapi tanpa produksi. Hanya ada tiga penerbit Islam nasional di Jakarta dan Bandung. Di Jakarta adalah penerbit Bulan Bintang, dan di Bandung adalah penerbit Pustaka Panjimas, dan yang terbesar adalah penerbit al-Ma’arif.[10]
Penerbit Bulan Bintang menerbitkan buku-buku murah dengan kualitas cetak yang rendah, yang menspesifikasikan pada buku-buku keagamaan. Pustaka Panjimas adalah lini penerbitan dari Jurnal Panji Masyarakat yang bertahan sejak masa Soekarno. Panjimas dapat bertahan, sebagaimana menurut Watson, disebabkan melalui pencetakan dan penerbitan karya-karya pendirinya, yakni Buya Hamka yang menulis Tafsir al-Qur’an semasa masa penahanannya. Penerbit Al-Ma’arif menerbitkan buku teks-teks pedoman agama yang ditulis oleh para tokoh-tokoh agama kontemporer, yang diantara mereka juga mengkaitkan isu-isu politik yang berkembang.[11]
Dalam hal toko buku, hanya ada sedikit toko buku, yakni toko buku Gunung Agung di Jakarta, yang berdiri sejak masa Soekarno, dan Toko Sumur Bandung di Bandung. Sejalan dengan lesunya dunia penerbitan Islam pada waktu itu, maka stok buku yang tersedia pun sangat sedikit.
Perkembangan dunia penerbitan terjadi di awal tahun 1970an, dimana kebijakan ekonomi pemerintah waktu itu sangat menguntungkan dan membuahkan hasil. Pembukaan perizinan investasi modal asing dan perluasan industri besar, yang diikuti dengan penguatan industri manufaktur (tekstil, perakitan mobil, dan elektronik) memberikan angin segar bagi perekonomian Indonesia. Geliat industri penerbitan mulai ditampakkan oleh sebuah majalah mingguan Tempo pada tahun 1971. Tempo menerbitkan majalah dengan cover glossy tetapi dengan kualitas kertas yang masih kurang. Tempo menjangkau kelas menengah intelektual, sehingga menjadi bacaan kelas menengah. Di sisi lain, masyarakat Muslim kelas menengah dapat membaca majalah Panji Masyarakat. Kemunculan Penerbit Gramedia pada tahun 1974, yang bekerjasama dengan Kompas juga menjadi indikasi perkembangan dunia penerbitan di Indonesia. Buku pertama yang diterbitkan oleh Gramedia adalah Karmila, sebuah novel romantis yang sebelumnya disajikan serial dalam harian Kompas.[12]
Sejak dekade 1970-an sikap pemerintah Soeharto membatasi ruang gerak tokoh-tokoh Muslim dan aktivitasnya. Harian Abadi, sebuah surat kabar harian Muslim dilarang oleh pemerintah. Sejak itu tidak terbit lagi harian Muslim sampai terbitnya harian Republika pada akhir dekade 1980-an.[13] Hal ini tentu membuka peluang kembali bagi penerbit-penerbit Islam yang baru, bahkan penerbit-penerbit lama juga kembali berproduksi. Tetapi kembali beroperasinya penerbit-penerbit lama dan munculnya beberapa penerbit Islam baru tidak menunjukkan iklim yang inovatif dalam dunia perbukuan dan media Islam. Hal ini disebabkan mereka harus menyesuaikan dengan sikap pemerintah yang selalu mengawasi ruang gerak oposisi Muslim.
Hanya sedikit saja yang menerbitkan bacaan-bacaan Islam yang inovatif, diantaranya jurnal bulanan budaya Budaja Djaja. Dalam salah satu sesinya menghadirkan perdebatan seputar Islam dan sekularisasi Nurcholis Madjid yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1970. Selain itu pula terbit Jurnal Prisma, sebuah jurnal bulanan bagi kalangan intelektual baru yang diterbitkan oleh LP3ES.[14]
Seiring dengan kemajuan ekonomi pada akhir tahun-tahun 1970-an dan sepanjang tahun-tahun 1980-an, pasar untuk bacaan-bacaan baru dan ide-ide baru yang sesuai dengan perkembagan ekonomi, bersamaan dengan itu pula industri penerbitan juga meresponnya dengan menerbitkan karya-karya terjemahan untuk menutupi tulisan-tulisan asli penulis Indonesia yang kurang. Di sisi yang lain juga pengaruh Revolusi Islam Iran yang berpengaruh pada dunia Internasional Islam, membuat pemerintah juga lebih mempermudah semua ekspresi dan opini-opini kaum Muslim. Mukti Ali seorang intelektual Muslim modernis (yang kemudian menjadi Mentri Agama) amat mendorong untuk melihat Islam dengan sudut pandang yang luas ketimbang melihat Islam sebagai sebuah aturan-aturan fiqh atau sekadar aktivitas politik.
Perkembangan pertama dari situasi ini adalah penerjemahan karya-karya teologi Muslim dari kalangan literal yang memperjuangkan Islam puritan, seperti Maulana Al-Maududi dari Pakistan.  Perkembangan lain dari situasi ini adalah kemunculan penerbit Mizan di Bandung pada tahun 1983. Sesuai dengan namanya Mizan berupaya untuk memberikan gambaran Islam ideal yang seimbang.[15] Mizan berusaha menerbitkan karya-karya pemikiran Islam kontemporer, baik yang ditulis oleh intelektual Indonesia maupun luar negeri.
Setalah Mizan muncul penerbit Gema Insani Press (GIP), yang berdiri pada tahun 1986 dan didirikan oleh Umar Basyarahil.[16] Buku pertamanya yang diterbitkan adalah Perang Afganistan boleh dibilang sukses. Ini kemudian diikuti oleh penerbitan-penerbitan karya-karya terjemahan dari penulis-penulis Timur Tengah, seperti Sayyid Qutb, Muhammad Qutb, dan Muhammad al-Ghazali, tetapi pada waktu-waktu selanjutnya, GIP banyak menerbitkan buku-buku kecil tentang keluarga dan wanita, dan buku-buku petunjuk agama atau ibadah, sehingga hal inilah yang membedakan dengan Mizan.
Sejak akhir-akhir tahun 1980-an, hingga tahun 1990-an hingga memasuki abad 21, penerbitan buku-buku dan media Islam semakin bertambah. Sejumlah penerbitan kecil banyak berdiri. Selain itu pula banyak penerbit-penerbit besar yang juga mulai melebarkan sayap. Hal ini didasarakan oleh kecendrungan permintaan pasar yang terus berkembang, tidak hanya dalam hal buku-buku Islam, bahkan beberapa penerbit Islam, seperti Mizan, mulai membuka lini atau sebuah anak perusahaan penerbit yang berkonsentrasi dalam satu bidang. Teraju, misalnya yang mengkhususkan pada bidang-bidang filsafat kontemporer, Qanita tentang isu-isu wanita, dan Kalifa tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan pasar pembaca anak-anak.
Antusiasisme penerbit-penerbit dan beberapa media Islam semakin bertambah sejak akhir abad 20 dimana buku-buku dan media-media Islam telah memenuhi pasaran antara tahun 1998-2001,[17] bahkan hingga sekarang penerbit buku Islam sudah mencapai sekitar 50 perusahaan, dan 60 persen berada di wilayah Jabotabek, sisanya tersebar di Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, dan Surabaya, di samping sedikit penerbit Islam yang berada di luar Jawa.[18] Hal ini disebabkan karena sensor yang ketat dan pelarangan dalam dunia perbukuan dan penerbitan telah ditinggalkan, yang dimulai sejak era Presiden Habibie, dan kemudian diikuti oleh Presiden Abdurrahman.
Mengakhiri bagian ini, dan sebelum penulis memaparkan beberapa penerbit-penerbit Islam secara detail serta beberapa kebijakan dan ide-ide yang diterbitkan sebagai materi-materi dalam buku-buku dan media Islam tersebut, penulis akan mencoba memberikan beberapa tipologi perkembangan yang terjadi sejak awal kemunculan penerbitan sampai akhir abad ini.
Pertama, fenomena buku-buku terjemahan dari bahasa Inggris yang menulis tentang Islam semakin marak. Tulisan-tulisan para sarjana non-Muslim pun dipertimbangkan. Untuk melakukan hal ini, beberapa penerbit menjalin kerjasama dengan penerbit asing. Karya-karya Karen Amstrong, Bernard Lewis, dan beberapa sarjana asing lainnya turut meramaikan dunia perbukuan Islam di Indonesia.   
Kedua, buku-buku Islam yang diterbitkan banyak seputar masalah wanita, pernikahan, dan keluarga serta pengasuhan anak. Hal inilah yang banyak bermunculan menghiasi toko-toko buku, meskipun buku-buku Islam yang ditulis oleh kalangan intelektual yang menulis berbagai tema-tema Islam kontemporer tetap ada, tetapi jika dibandingkan dengan tema-tema di atas, masih tetap kalah.[19]
Ketiga, ada kecendrungan buku-buku dan media-media yang membuka ruang dialog Kristen-Islam. Buku-buku yang bertemakan dialog Kristen-Muslim menjadi banyak diminati. Sayangnya, buku-buku yang menghadirkan dialog ini sering juga dipenuhi prasangka dan tujuan saling menjatuhkan. Sebagai misalnya, majalah dua mingguan Sabili,[20] yang selalu memberikan kolom khusus dalam majalahnya tentang dialog Kristen-Islam dengan sudut pandang yang negatif. Beberapa buku-buku atau beberapa media kecil yang menghadirkan dialog ini ada yang bertujuan untuk merespon dialog antar-iman, ada juga yang hanya  sebagai counter didasari oleh anggapan adanya kristenisasi.
Selain buku-buku yang menghadirkan dialog antar-iman dengan sudut pandang yang negatif dan penuh prasangka, ada sejumlah penerbit yang menghadirkan dialog ini penuh dengan suasana yang damai, seimbang dan tanpa prasangka. Misalnya buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit Paramadina.[21] Diantara buku yang merupakan buku dialog antar-agama yang diterbitkan oleh Paramadina adalah Passing Over, Melintas Batas Agama. Buku ini sampai tahun 2001 sudah cetak ulang sebanyak tiga kali, pertama terbit tahun 1998, kemudian tahun 1999, dan kemudian tahun 2001.[22] Buku ini memuat tulisan-tulisan dari berbagai penulis lintas agama. Tema-tema dialog antar-agama, kemungkinan kerjasama, dan toleransi di bahas di dalamnya.
Trend berikutnya yang mewarnai perkembangan buku-buku dan media di Indonesia adalah kecendrungan polarisasi posisi dalam komunitas Islam Indonesia sendiri. Dulu ketika tahun 1930-an, diketahui konfrontasi antara kaum tua dan kaum muda, di mana kaum tua mewakili golongan konservatif, dan kaum muda mewakili golongan modernis.[23] Pada masa orde baru, juga terjadi polemik, misalnya dengan Nurcholis Madjid dengan para kritikusnya. Kontroversi Islam Modern dan Islam Tradisional diantara komunitas Muslim Indonesia.[24] Saat ini polarisasi masih juga mewarnai buku-buku dan media Islam. Perdebatan antara golongan literal dan liberal masih terasa hangat.[25]
Di luar jalur kontroversi Islam Literal dengan Islam Liberal, munculnya aktivitas dan komunitas sufi baru seperti yang dimunculkan oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), majlis dzikir Ustadz Arifin Ilham juga masih dan bisa dimasukkan dalam trend penerbitan Islam baru. Sejumlah buku-buku, buku saku, majalah yang memberikan tuntunan doa, ibadah, dan dzikir banyak diterbitkan. Rata-rata pasar buku ini adalah kalangan Muslim menengah di perkotaan. Masih dalam jalur Islam Sufi dan “Islam Mistik,” banyak juga majalah-majalah, tabloid-tabloid yang menerbitkan cerita-cerita gaib dan misteri, seperti majalah Hidayah, Hikayah, Realita. Majalah ini juga mendapat pasar yang banyak dan menjadi trend baru, bukan hanya dalam media cetak, tetapi juga media elektronik.[26]
Wajah Islam dalam Penerbitan Islam Indonesia
Di atas telah dikemukakan beberapa kecendrungan pokok yang menjadi perhatian beberapa penerbitan Islam di Indonesia. Diantara empat kecendrungan di atas, penulis akan lebih mendalami kecendrungan keempat, yakni mengenai polariasi komunitas Islam dalam dunia penerbitan Islam. Mengapa polarisasi? Polarisasi ini dapat digunakan untuk melihat lebih jauh bagaimana wajah Islam di Indonesia, karena polarisasi komunitas Islam dalam media—karena didasarkan oleh komuitas pembaca Islam sendiri—adalah fenomena yang paling mudah dilihat untuk melihat peta pemahaman Islam masyarakat Muslim Indonesia. Dari pemahaman tentang peta itu, diharapkan mampu untuk membedah narasi yang tak terbaca, asumsi yang mendasari, dan ideologi dibalik wacana yang ditawarkan.
Untuk mempermudah kajian, penulis akan membatasi pada lima penerbit yang akan dianalisis lebih jauh. Lima penerbit tersebut penulis kira cukup representatif—meskipun tidak begitu saja dapat dibuat kesimpulan umum—untuk melihat polarisasi komunitas Muslim Indonesia. Lima penerbit itu adalah Mizan, Gema Insai Press (GIP), LkiS, Al-Kautsar, Khairul Bayan.[27]
Mizan. Saat ini Mizan sedikit berbeda dengan 20 tahun yang lalu, meskipun terkadang masih saja menerbitkan karya-karya penulis Syi’ah,[28] dan penulis-penulis Ikhwanul Muslimin. Mizan sekarang lebih mengusung keagamaan yang moderat, sebuah Mazhab Tengah.[29] Sesuai dengan namanya Mizan, penerbit Mizan berupaya untuk menghadiran Islam yang moderat, ilmiah, serta pandangan yang luas tentang Islam. Atas dasar ini, Mizan banyak menerbitkan buku-buku yang banyak dijadikan referensi bagi kalangan Muslim terpelajar, sebut saja Enliklopedi Dunia Islam yang diterjemahkan dari karya John Esposito dalam bahasa Inggris, dan Ensiklopedi Spiritual Islam karya terjemahan Seyyed Hossein Nasr. Buku-buku tentang filsafat Islam, Tasawwuf, dan tentang tema-tema Islam Kontemporer juga banyak diterbitkan oleh Mizan. Diantara buku-buku itu ada yang merupakan karya penulis Indonesia, dan ada juga karya penulis asing, baik penulis Timur Tengah maupun penulis Barat.
Gema Insani Press. GIP adalah salah satu penerbit Islam besar setelah Mizan, dengan jumlah judul 481. GIP berpusat di Jakarta. Pada tahun-tahun awal keberadaannya GIP banyak menerbitkan karya-karya penulis Ikhwanul Muslimin, yang kemudian banyak menjadi bahan rujukan dan digemari para mahasiswa Islam umum. Buku-buku GIP banyak menjadi bahan rujukan bagi aktivitas tarbiyah, atau ta’lim dalam jama’ah-jama’ah pengajian mahasiswa di kampus-kampus umum.[30] Kelompok-kelompok atau jama’ah-jama’ah pengajian di kampus-kampus ini pada akhirnya banyak mendukung berdirinya Partai Keadilan Sejahtera.[31] Saat ini GIP mulai mengembangkan buku-buku terbitannya untuk tujuan menyediakan bacaan yang memberikan tuntunan beragama dalam kehidupan sehari-hari, biografi singkat tokoh-tokoh Muslim, buku-buku tuntunan ibadah, dan nasehat-nasehat keagamaan.[32]
Secara umum, GIP masih tetap menerbitkan karya tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin dan simpatisan mereka, yang merupakan lawan dari Islam Liberal. Lebih jauh GIP lebih sering memberikan pembelaan terhadap ajaran Islam yang lebih literal dan puritan.
LKiS.[33] Dalam skala operasi, judul, dan target pembacanya, LKiS kontras dengan GIP.[34] LKiS mengkhususkan pada penerbitan buku-buku Islam yang berhaluan kiri dan liberal, yang dikaitkan dengan sayap kiri kaum muda NU. Kebanyakan buku-buku yang diterbitkan oleh LKiS juga adalah terjemahan dari penulis-penulis asing, baik dari kalangan sarjana-intelektual Barat Non-Muslim maupun kalangan pemikir progresif Timur Tengah dan Asia, baik Muslim maupun Non-Muslim.[35] Buku pertama LKiS yang diterbitkan adalah Kiri Islam[36] dipertengahan tahun 1996. Buku ini mendapat sambutan yang cukup bagus oleh pembaca, bahkan mengalami beberapa kali cetak ulang.        
Selain LKiS, ada beberapa penerbit Islam yang berhaluan kiri dan liberal lain, diantaranya LKPSM-SYARIKAT dan elSAQ di Yogyakarta, serta Jaringan Islam Liberal dan Paramadina di Jakarta. Tentunya juga beberapa penerbit-penerbit Islam kiri lainnya.
Pustaka Al-Kautsar. Penerbit ini hampir sama dengan GIP dalam hal orientasi keagamaan dan buku-buku yang diterbitkan, baik mengenai nasehat keagamaan maupun tuntunan fiqh praktis sehari-hari. Penerbit ini juga banyak menerbitkan buku-buku kecil dalam bentuk saku. Pendekatan literalis begitu kuat dalam penerbitan ini. Diantara kebijakan penerbit ini adalah mengkoreksi segala hal yang dianggap menyimpang, sehingga buku-buku yang diterbitkan tampak amat bergairah untuk melakukan pembenaran atas paham-paham keagamaan yang dianggapnya sesat.
Salah satu penulis yang digadang-gadang oleh Pustaka Al-Kautsar adalah Hartono Ahmad Jaiz. Beberapa buku yang ditulisnya adalah Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Bila Kyai Dipertahankan: Membedah Sikap Beragama NU, Bahaya Pemikiran Gus Dur: Menyakiti Hati Umat, Ada Pemurtadan di IAIN, Kekeliruan Logika Amien Rais, Ambon Bersimbah Darah: Ekspresi Ketakutan Ekstrimis Nasrani, dan beberapa buku lainnya.
Salah satu buku yang menjadi best seller adalah The Choice: Dialog Islam dan Kristen, yang ditulis oleh Ahmad Deedat, seorang berkebangsaan Afrika.[37] Ini adalah buku dialog Islam-Kristen dengan sudut pandang yang penuh dengan kecurigaan dan menyudutkan pihak umat Nasrani.
Khairul Bayan. Ini adalalah penerbit kecil. Hampir sama dengan Pustaka Al-Kautsar, Khairul Bayan juga kontra dengan liberalisme dan sufisme. Watson melihat penerbit ini lebih memiliki keterkaitan dengan Partai Bulan Bintang (PBB), sebuah partai Islam yang berafiliasi pada Masyumi. PBB dikenal sangat agresif menentang liberalisme. Khairul Bayan banyak menerbitkan majalah-majalah dan Buletin Islam. Al-Insan adalah buletin Jum’atan yang disebarkan ke setiap masjid pada hari Jum’at. Khairul Bayan juga menerbitkan majalah keluarga Islam mingguan Fikri, dan majalah Insani, sebuah majalah Islam umum, serta majalah Alia, sebuah majalah wanita muslim.
Satu hal yang penting juga dilihat adalah terbitnya Jurnal Bulanan Islamia yang mulai terbit pada Maret 2004. Jurnal ini muncul atas gagasan yang timbul karena pertemuan Edy Setiawan, pemilik Khairul Bayan dengan Adian Husaini, seorang mahasiswa doktor dan staf pada Institute for the Study of International Islamic Thought and Civilitation (ISTAC) di International Islamic University Malaysia, di Kuala Lumpur.[38] Islamia diedit oleh Hamid Fahmy Zarkasyi, yang juga cukup kontra dengan pendekatan modernis-liberal dalam tafsir al-Qur’an. Dengan demikian Islamia adalah representasi dari Khairul Bayan yang bercita-cita juga untuk mengkoreksi pandangan Islam liberal.
Analisis dan Kesimpulan
Deskripsi di atas memberikan gambaran tentang keberagaman pemahaman Islam yang muncul dalam publikasi-publikasi, baik media massa maupun buku-buku Islam. Secara umum, dan pada akhirnya dengan gambaran di atas, dapat dipahami bagaimana wajah Islam di Indonesia. Islam Indonesia adalah Islam yang penuh “warna-warni”, bukan Islam yang tunggal atau Islam yang homogen. Islam Indonesia adalah Islam yang hidup dalam kehidupan nyata Muslim Indonesia.
Paling tidak ada tiga kecendrungan pokok dalam pemahaman Islam masyarakat Islam Indonesia—berdasarkan gambaran beberapa penerbitan di atas, yakni: Islam Moderat, Islam Liberal, dan Islam Literal.[39]
Kalau tiga tipologi pemahaman Islam ini dibaca dengan alur tipologi yang telah dikemukakan oleh beberapa penulis,[40] maka akan dapat disejajarkan dengan tipe pemahaman Islam Akomodatif-Realistik, Islam Substansialis-Etik, dan Islam Skriptualistik-Formalistik.
Pertama, Pemahaman Islam Akomodatif pada awalnya lebih dipengaruhi dengan aspirasi politik Muslim pada masa orde baru, pada masa itu sikap cendikiawan Muslim banyak melakukan konfrontasi dengan kebijakan politik-politik pemerintah, sehingga aspirasi Muslim tenggelam. Dari sini kemudian, beberapa cendikiawan Muslim mulai melihat pentingnya mengubah sikap, kebijakan-kebijakan pemerintah perlu dipertimbangkan agar aspirasi Muslim kembali muncul dipermukaan yang merupakan kebutuhan yang kian mendesak. Penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal adalah bagian dari sikap akodomatif ini. Dalam skala yang luas, Islam Akomodatif ini berusaha menunjukkan keluwesan Islam ketika berhadapan dengan dunia modern, tetapi dengan tetap melanggengkan nilai-nilai keislaman yang ketat dan lama.
Penulis mempunyai pemahaman lain tentang Islam Akomodatif-Realistik ini. Penulis melihat Islam Moderat (Mazhab Tengah) lebih sesuai untuk memberikan pengertian akomodatif. Islam akomodatif adalah Islam yang mengambil jalan tengah untuk menjaga terjadinya konfrontasi umat dengan kemodernan. Islam akomodatif adalah Islam yang mengambil jalan tengah antara Islam Liberal dengan Islam Literal, sehingga wataknya yang liberal tidak begitu terlihat, begitu juga wataknya yang literal-puritan juga tidak terlalu terlihat. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang sebenarnya dibela oleh Islam Moderat. Kalau sikap moderat tiba-tiba hanya melanggengkan sebuah rezim tertentu, atau semata-mata mengikuti selera pembaca dengan maksud meraup keuntunangan, maka sebenarnya dia sudah tidak lagi moderat. Inilah yang penulis maksud analisis tak terbaca perlu segera dilakukan.
Kedua, Islam Substansialis-Etik dan Islam Skriptualis-Formalistik. Menurut penulis kedua tipologi Islam ini sama-sama mempunyai kelemahan, sebelum kita melihat kelebihan dari masing-masing model. Kelemahan dari dua tipologi ini adalah sering kali gagasan-gagasan yang mereka usung hanya sampai pada kalangan elit atau kelas mengah ke atas. Hanya yang berbeda pada pemahamannya saja, daya serap di masyarakat keduanya amat lemah. Tampaknya “Islam Sufistik” sebagaimana yang diusung oleh Aa Gym dan Arifin Ilham lebih bisa diterima oleh kalangan masyarakat secara luas, meskipun dalam tingkat tertentu Islam model ini juga bisa dimasukan dalam barisan Islam Literal. Kalau dua model pamahaman Islam di atas—Substansial dan Skriptualistik—tetap hanya mempertahankan cara-cara mereka dalam menyebarkan gagasan, maka sebenarnya mereka hanya memperjuangkan status mereka, yakni kalangan elit Islam Liberal dan kalangan elit Islam Literal, padahal kaum Muslim di desa-desa membutuhkan ajaran agama yang membebaskan, baik dalam aspek sosial maupun ekonomi. Inilah yang sering kali tidak terbaca dan tampak halus dalam berbagai tipologi pemikiran dan gerakan Islam yang ada.
Akhirnya penting menjadi bahan kajian dan penelitian lebih lanjut adalah mengapa masyarakat lebih menerima Islam Sufistik sebagaimana telah diurai di atas atau mengapa buku-buku yang lebih pada bimbingan ibadah, tuntunan keluarga, tuntunan wanita, cara mendidik anak lebih disukai oleh pembaca Muslim ketimbang buku-buku karya intelektual-Muslim? Mengapa banyak penerbit-penerbit yang berhaluan liberal atau moderat tidak mencoba cara-cara yang dilakukan oleh penerbit yang berhaluan literal dalam hal menerbitkan buku-buku yang lebih praktis sifatnya.
Daftar Pustaka
Buku dan Jurnal
Aay Muhammad Furqon, Partai Keadilan Sejahtera: Ideologi dan Praksis Politik Kaum Muda Muslim Indonesia Kontemporer, Jakarta: Teraju, 2004
Agus Moh Najib, “Paradigma Keilmuan Non-Dikhotomi dan Aplikasinya Pada Pembentukan Fakultas dan Program Studi di UIN Sunan Kalijaga,” dalam Jurnal Penelitian Agama, Vol. XIV, NO. 1 Januari-April 2005
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Anlisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002
Ali Said Damanik, Fenomena Partai Keadilan: Transformasi 20 Tahun Gerekan Tarbiyah di Indonesia, Jakarta: Teraju, 2003.
A Qodri Azizy, Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman, Semarang: Penerbit Aneka Ilmu, 2004
Azyumardi Azra, “Kecendrungan Kajian Islam di Indonesia”, dalam Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999
Barton, Greg, Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan Efendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid, Jakarta: Paramadina, 1999
Bachtiar Efendy dan Fachry Ali, Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Masa Orde Baru, Bandung: Mizan, 1992
Barthes, Rolland, Elements of Semiolgy, New York: Hill and Wang, 1998
----------, Mythologies, London: Vintage Books, 1993
Ecols, John, Hassan Shadilly, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia, 1995
Dhavamoni, Mariasusai, Fenomenolgy of Religion, terj. Kelompok Studi Agama Driyarkara, Yogyakarta, Kanisius, 1995
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES, 1996
Gabriel, Theodore, “Islam in the Media, How it is Pictured and How it Pictures Itself” dalam Majalah Concilium, Inggris, 2005
Haidar Bagir, “Mereka-reka “Mazhab” Mizan: Sebuah Upaya “Soul Searching”, dalam Haidar Bagir (ed),  20 Tahun Mazhab Mizan 1983-2003: Menjelajah Semesta Hikmah, Bandung: Mizan, 2003
Harun Nasution, “Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perspektif,” dalam M Deden Ridwan (ed), Tradisi Baru Penelitian Agama Islam: Tinjauan antar Disiplin Ilmu,Bandung: Penerbit Nuansa, 2001
Ihsan Ali Fauzi, “Pemikiran Islam Indonesia Dekade 1980-an”, dalam Prisma 3 Maret 1991
Imam Suprayogo, Tobroni, Metodologi Sosial-Agama, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2003
Kris Budiman, Kosa-Semiotika, Yogyakarta: LKiS, 1999
M Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi, Pendekatan Integratif-Interkonektif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006
M Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam Dalam Teori dan Praktek,Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998
Moeslim Abdurahman, “Menyimak Pemikiran Islam: Sebuah Sketsa Kontemporer”, dalam Moeslim Abdurrahman, Islam Transformatif, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997
M Syafii Anwar, Pemikiran Islam dan Aksi Islam Indonesia, Jakarta: Paramadina, 1995
Munir Ba’alabaki, al-Maurid, Beirut: Dar al-‘Ilm lil al-Malayyin, 1979
Nurkhalik Ridwan, Agama Borjous: Kritik Atas Nalar Islam Murni, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2004
Peters, Jeroen, “Islamic Book Publishers in Indonesia: A Social Network Analysis”, dalam Paul Van der Velde dan Alex Mckay (eds), New Development in Asian Studies, London: Kegen Paul, 1999
Putut Widjanarko, “Kebangkitan Generasi Baru: Penerbitan Buku Islam dan Masyarakat Islam di Indonesia”, dalam Haidar Bagir (ed), 20 Tahun Mazhab Mizan 1983-2003: Menjelajah Semesta Hikmah, Bandung: Mizan, 2003
Sassure, Ferdinand, Linguistik Umum, terj. Rahayu S Hidayat, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1988
Sunardi, Semiotika Negativa, Yogyakarta, Buku Baik, 2004
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002
Watson, CW, “Islamic Books and Their Publishers: Notes On The Contemporary Indonesian Scene,” dalam Journal of Islamic Studies 16:2, 2005
Zuly Qodir, Pembaharuan Pemikiran Islam: Wacana dan Aksi Islam Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006
Web Site




[1] Watson, CW, “Islamic Books and Their Publishers: Notes On The Contemporary Indonesian Scene,” dalam Journal of Islamic Studies 16:2, 2005, p. 177
[2] Lihat Kris Budiman, Kosa-Semiotika (Yogyakarta: LKiS) dalam bagian “Naratologi”. Lihat juga Ecols, John, Hassan Shadilly, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1995), p.390. Juga lihat Munir Ba’alabaki, al-Maurid (Beirut: Dar al-‘Ilm lil al-Malayyin, 1979), p.604.
[3] Ridwan, Nurkhalik, Agama Borjous: Kritik Atas Nalar Islam Murni (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2004), p.29
[4] Untuk eksplorasi lebih jauh mengenai konsep semiotik, bisa dilihat dalam Sunardi, Semiotika Negativa (Yogyakarta, Buku Baik, 2004). Lihat juga Barthes, Rolland, Elements of Semiolgy (New York: Hill and Wang, 1998). Semiotika, juga sering kali disebut dengan semiologi adalah ilmu tentang tanda. Tokoh penting yang dianggap sebagai ilmu tentang tanda ini adalah Ferdinad de Saussure, seorang ahli Linguistik. Dari teorisisasi dia mengenai hubungan antara language, parole, dan lenggage, serta hubungan antara penanda-petanda, sintagmatik-paradigmatik, maka lahirlah semiotika. Untuk lebih jauh mengenai gagasan Sassure, baca Sassure, Ferdinand, Linguistik Umum, terj. Rahayu S Hidayat (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1988).
[5] Tentang penjelasan Barthes tentang mitos baca Barthes, Rolland, Mythologies (London: Vintage Books, 1993). Dan juga Sunardi, ibid, p.85.
[6] Sunardi, ibid, p. 74
[7] Ibid, p.132
[8] Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framming (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002), p.66
[9] Watson, C.W, Op.cit,  p.180
[10] Untuk Survei lebih lengkap mengenai sejarah awal penerbitan Islam lihat Putut Widjanarko, “Kebangkitan Generasi Baru: Penerbitan Buku Islam dan Masyarakat Islam di Indonesia”, dalam Haidar Bagir (ed), 20 Tahun Mazhab Mizan 1983-2003: Menjelajah Semesta Hikmah (Bandung: Mizan, 2003), p. 17-30. Lihat juga Peters, Jeroen, “Islamic Book Publishers in Indonesia: A Social Network Analysis”, dalam Paul Van der Velde dan Alex Mckay (eds), New Development in Asian Studies (London: Kegen Paul, 1999), p.209-222.
[11] Watson, Op.cit, p.181
[12] Ibid, p.182
[13] Ibid
[14] Ibid, p.183
[15] Ibid, p.184
[16] Putut Widjanarko, “Kebangkitan Generasi Baru: Penerbitan Buku Islam dan Masyarakat Islam di Indonesia”, dalam Haidar Bagir (ed), 20 Tahun MAzhab Mizan 1983-2003: Menjelajah Semesta Hikmah (Bandung: Mizan, 2003), p.23
[17] Watson, Opcit, p.188
[18] Sumber ini diperoleh dari keterangan Iwan Setiawan, Wakil Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta, dalam www.republika.co.id, diakses tanggal 22-03-2007
[19] Sejumlah buku-buku bertemakan wanita, keluarga, dan pendidikan anak banyak diminati, hal ini bisa dilihat dalam jumlah oplah penjualan buku-buku tersebut. Seperti buku berjudul 20 Tahun Cinta yang diterbitkan oleh Penerbit Utama Akbar Media cetak ulang dalam waktu sebulan, bahkan buku Indahnya Poligami dalam waktu seminggu sudah cetak ulang. Buku Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu sudah cetak sebanyak 100.000 eksemplar (Republika, 28 Maret 2004). Buku fenomenal La Tahzan yang ditulis oleh intelektual mesir kontemporer Dr. ‘Aid al-Qorni sudah beberapa kali cetak ulang (17 Maret 2006). Diambil dari www.republika.co.id, diakses tanggal 3 Maret 2007.
[20] Sabili, adalah majalah Islam yang terbit dua mingguan, majalah ini banyak menyuguhkan pemberitaan-pemberitaan yang isinya kebanyakan anti-Barat dan anti-Kristen.
[21] Paramadina adalah pada awalnya sebuah lembaga kajian Islam yang didirikan oleh Nurcholis Madjid pada tahun 1986. Paramadina didirikan bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai universal Islam dalam konteks tradisi-tradisi lokal Indonesia. Sasaran Paramadina adalah kalangan Muslim menengah ke atas. Untuk melihat keterangan lebih jauh mengenai Paramadina lihat Azyumardi Azra, “Kecendrungan Kajian Islam di Indonesia”, dalam Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), p.179. Lihat juga Moeslim Abdurahman, “Menyimak Pemikiran Islam: Sebuah Sketsa Kontemporer”, dalam Moeslim Abdurrahman, Islam Transformatif (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997), p.95. Lihat juga Ihsan Ali Fauzi, “Pemikiran Islam Indonesia Dekade 1980-an”, dalam Prisma 3 Maret 1991, p.30
[22] Buku ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Wakaf Paramadina dengan Penerbit Gramedia Jakarta.
[23] Mengenai debat antara kaum tua dengan kaum muda, bisa dilihat dalam Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (Jakarta: LP3ES, 1996).
[24] Watson, Op.cit, p.190
[25] Terbitnya Syir’ah sebuah majalah Islam Moderat yang sengaja diterbitkan untuk menandingi majalah-majalah Islam Radikal seperti Sabili, Hidayah, dan Saksi, adalah juga bentuk debat publik lewat media yang merupakan bentuk polarisasi komunitas Muslim Indonesia itu sendiri menjadi misalnya Islam Radikal dengan Islam Liberal. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai terbitnya majalah Syir’ah, silahkan lihat wawancara dengan Alamsyah M. Ja’far Pimpinan Majalah Syir’ah dengan Novriantoni dalam www.islamlib.com//Mutu Jurnalistik Media Islam Sangat Lemah. Diup date tanggal 22 Maret 2007 
[26] Sejumlah Sinetron Religius banyak menghiasi acara-acara televisi. Hal ini menunjukkan bahwa tema-tema religius dan mistis juga amat digemari oleh masyarakat Muslim Indonesia. Kebanyakan sinetron-sinetron ini diangkat dari majalah-majalah bercorak Sufi dan Mistik di atas. 
[27] Di sini penulis bukan terjebak pada arus besar penerbitan, tanpa melihat beberapa penerbit kecil, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah analisis. Analisis terhadap lima penerbit ini juga sepenuhnya mengikuti pembagian tipologi penerbit yang dilakukan oleh Watson dengan beberapa tambahan penjelasan dan analisis yang kurang dilakukan oleh Watson, lihat Watson, Op.cit, p.191-203.
[28] Keterkaitan Mizan dengan pemikiran-pemikiran Syi’ah adalah diilhami oleh sebuah penerbit kecil, Muthahari Press, yang merupakan bagian dari Yayasan Al-Muthahari yang didirikan oleh Jalaluddin Rahmat. Jalaluddin Rahmat mempunyai pengaruh besar pada kebijakan penerbitan di awal-awal berdirinya Mizan. Lihat Haidar Bagir (ed), Op.cit.
[29] Tentang ide Mazhab Tengah, lihat tulisan Haidar Bagir, “Mereka-reka “Mazhab” Mizan: Sebuah Upaya “Soul Searching”, dalam Haidar BAgir (ed), Op.cit.  
[30] Watson, Op.cit, p.194
[31] Keterkaitan gerakan Tarbiyah pada beberapa mahasiswa Islam di Indonesia dengan berdirinya Partai Keadilan, silahkan lihat Ali Said Damanik, Fenomena Partai Keadilan: Transformasi 20 Tahun Gerekan Tarbiyah di Indonesia (Jakarta: Teraju, 2003). Lihat juga Aay Muhammad Furqon, Partai Keadilan Sejahtera: Ideologi dan Praksis Politik Kaum Muda Muslim Indonesia Kontemporer (Jakarta: Teraju, 2004).
[32] Beberapa judul diantaranya: Berjabat Tangan dengan Perempuan, Islam Kiri: Kebohongan dan Bahayanya, Bolehkan Wanita Menjadi Imam, Syura Bukan Demokrasi, Tafsir fi Zhilalil al-Qur’an karya Sayyid Quthb, Fatwa-Fatwa Kontemporer Yusuf al-Qardhawi, dan Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu karya KH. Abdullah Gymnastiar.
[33] Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) adalah pada awalnya sebuah lembaga kajian Islam Kritis. Didirikan pada tahun 1993 oleh beberapa mahasiswa dan anak muda NU di Yogyakarta yang dipimpin oleh Jadul Maula.
[34] Watson, Op.cit, p.196
[35] Diantara para penulis itu adalah Andree Felliard, Greg Fealy, Gred Barton, Martin van Bruinessen, Robert W Hefner, Mark Woodward, Ben Anderson, James Siegel, dan Clifford Geertz. Untuk penulis-penulis Non-Indonesia Muslim adalah diantaranya Asghar Ali Engineer, Nasr Hamid Zayd, Muhammad Abid al-Jabiri, dan Hasan Hanafi.
[36] Buku ini ditulis oleh Kazuo Shimogaki asal Jepang dengan judul asli Between Modernity and Postmodernity: The Islamic Left and Dr Hasan Hanafi’s Thought, A Critical Reading. Abdurrahman Wahid menulis untuk bagian pendahuluan buku ini.
[37] Watson, Op.cit, p.200
[38] Ibid, p.202
[39]  Bandingkan dengan tulisan Novriantoni,  “Membaca Peta Industri Perbukuan Islam,” dalam www.islamlib.com, senin 26 Maret 2007, diupdate taggal 26 Maret 2007. Tulisan ini penulis temukan ketika tulisan ini sudah selesai dibuat, bahkan sudah tahap akhir. Norvriantoni membagi corak atau model buku-buku Islam menjadi tiga model, yakni model Islam Puritan/Radikal, model Islam Moderat/Akomodisianis,dan model Islam Progresif Liberal. Kekurangan tulisan Novriantoni adalah analisis yang kurang mendalam sampai taraf pembacaan narasi tak terbaca. 
[40] Diantaranya Bachtiar Efendy dan Fachry Ali, Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Masa Orde Baru (Bandung: Mizan, 1992), Barton, Greg, Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan Efendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid (Jakarta: Paramadina, 1999), M Syafii Anwar, Pemikiran Islam dan Aksi Islam Indonesia (Jakarta: Paramadina, 1995), dan Zuly Qodir, Pembaharuan Pemikiran Islam: Wacana dan Aksi Islam Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar